Lumnia

Hubungi kami untuk survey hama gratis di 0 8001 333 777  atau isi form online

Lebih dari 45 tahun melindungi properti di seluruh Indonesia dari serangan hama

Seluruh teknisi kami telah terlatih dan berlisensi dalam menangani masalah hama

Menerapkan penanganan yang inovatif dan berbeda dalam menyelesaikan masalah hama secara efektif

Sains di balik unit Lumnia

Ada banyak klaim dipasaran mengenai kemampuan suatu unit perangkap lalat elektrik , dan hal ini yang menjadi menyulitkan bagi pelanggan untuk menentukan pilihan dalam memilih perangkap lalat elektrik terbaik sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi pelanggan.

Semakin cepat populasi lalat dieliminasi didalam satu lingkungan, maka akan semakin rendah risiko penyakit seperti Shigellosis dan Salmonellosis yang dapat ditularkan melalui lalat.

Penelitian dan analisis ilmiah kami menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi LED pada perangkap lalat memiliki dampak signifikan terhadap keefektifan satu unit.

Teknologi LED menawarkan:

  • mengurangi konsumsi daya listrik
  • tingkat tangkapan yang terjag

Ini juga mengurangi kebutuhan untuk mengganti lampu fosfor setiap tahunnya.

Penelitian perangkap lalat Rentokil

Menyelidiki bagaimana cara menjebak dan mengusir lalat dengan efisien telah menjadi pertimbangan dasar dari berbagai penelitian oleh tim ahli sains kami di Pusat Teknis Global Rentokil.

Dua bidang utama penelitian kami adalah:

  1. Memahami unsur fisika mengenai dampak cahaya sebagai daya tarik biologis lalat terhadap perangkap
  2. Uji coba perangkap lalat yang berdasarkan dengan pengukuran standar Half-Life

Penelitian ini telah membantu kami mengembangkan perangkap lalat terbaru kam Lumnia dengan memanfaatkan teknologi LED yang terbukti paling efisien dalam menarik lalat ke perangkap.

Lampu LED untuk lalat

LED menghasilkan sinar UV-A yang intens untuk menembus ke lingkungan sekitar dan tampak lebih menarik bagi serangga tertentu, seperti lalat rumah, daripada lampu fosfor tradisional yang menghasilkan cahaya.

Lalat rumah tertarik ke UV-A karena mata mereka sensitif terhadap cahaya pada panjang gelombang tersebut.

Panjang gelombang cahaya yang berada di luar jangkauan cahaya tampak lebih menarik bagi lalat rumah daripada yang ada di dalamnya.

Mengapa lalat tertarik dengan sinar?

Sebuah fenomena yang dikenal sebagai phototaxis menggambarkan bagaimana serangga merespons cahaya.

Serangga tertentu, seperti kecoa atau cacing tanah, memiliki phototaxis negatif yang berarti mereka menolak paparan cahaya. Ngengat, lalat dan banyak serangga terbang lainnya memiliki phototaxis positif sehingga secara alami tertarik pada cahaya.

Meskipun tidak ada satu penjelasan ilmiah untuk daya tarik lalat terhadap cahaya, ada beberapa teori mengapa hal ini dapat terjadi.

Cahaya sebagai sinyal pengaman

Untuk beberapa serangga, sumber cahaya terang bisa dilihat sebagai sinyal pengaman. Sumber sinar cahaya umumnya diposisikan di tempat yang lebih tinggi, sehingga secara naluriah membantu menjaga serangga menjauh dari bahaya di dekat tanah.

Cahaya digunakan sebagai navigasi

Teori populer lainnya adalah serangga menggunakan cahaya sebagai alat bantu navigasi.

Seekor serangga yang terbang ke utara, misalnya, dapat menilai arahannya dengan menjaga sumber cahaya alami, seperti matahari atau bulan.

Metode ini bekerja dengan baik selama sumber cahaya tetap konstan dengan jarak yang cukup.

Serangga terbang akan menjadi bingung ketika menemukan sumber cahaya lain, seperti cahaya dari lampu pijar. Ini menjelaskan mengapa ngengat terus menerus mengelilingi cahaya - karena secara naluriah ingin menjaga agar cahaya tetap berada di sisi tubuh tertentu untuk membantunya menavigasi rutenya.

Cahaya buatan vs cahaya alami

Ada beberapa perdebatan di komunitas ilmiah tentang mengapa serangga fototactic positif akan terus terbang di sekitar sumber cahaya buatan bahkan ketika cahaya alami tersedia.

Beberapa orang percaya bahwa seungguhnya serangga terbang tersebut tidak tertarik langsung pada cahaya itu sendiri, melainkan dipengaruhi oleh kegelapan disekelilingnya.

Yang lain berpendapat bahwa ini disebabkan oleh mata serangga itu sendiri yang sering mengandung banyak lensa, sehingga mereka berjuang untuk menyesuaikan diri dari terang ke gelap. Hal inilah yang membuat serangga itu buta pada malam hari dan rentan terhadap predator, maka dari itu serangga mungkin merasa lebih aman untuk tetap berada di bawah cahaya daripada terbang menjauh.

Uji coba perangkap lalat

Sejak 2008, Pusat Teknis Global Rentokil telah mendedikasikan dua ruang yang dirancang khusus untuk menguji unit perangkap lalat. Unit tersebut dibandingkan dengan menggunakan uji kinerja standar yang disebut pengukuran atau uji half-life.

Semua perangkap lalat Rentokil telah menjalani pengujian ketat yang sama sejak itu, ini termasuk pengujian pada inovasi perangkap lalat LED terbaru kami Lumnia.

Pengukuran half-life

Untuk membuktikan dan mengukur efektifitas unit perangkap lalat, kami merancang uji standar half-life untuk mengukur kinerja secara ilmiah yang memungkinkan pelanggan untuk membandingkan produk secara langsung.

Grafik 1: Hasil uji half-life dalam menit untuk berbagai produk

Menunjukkan tingkat tangkapan unit Lumia (merah) dapat menangkap lalat dengan waktu tercepat dibandingkan produk lain.

Grafik 2: Penjelasan uji half-life

Dengan membandingkan membaca persentase tangkapan langsung (biru), Grafik 2 menunjukkan bagaimana uji half-life (merah) sebagai alat ukur bagaimana lalat dapat tertangkap dalam waktu tercepat.

Penelitian Rentokil didasarkan pada pelepasan 100 lalat rumah (Musca domestica) di ruang uji standar dengan produk atau unit terpasang, dan menghitung jumlah lalat yang ditangkap secara berkala selama periode tujuh jam.

  • Proses ini diulang setidaknya enam kali untuk memastikan refleksi kinerja yang konstan dari waktu ke waktu
  • Uji half-life mewakili waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan 50% lalat yang dilepaskan di ruang uji
  • Semakin rendah uji half-life, semakin menunjukan efektifitas sebuah unit
Hubungi kami hari ini untuk mendapatkan perangkap lalat Lumnia